The Invisible Gardener
debat tentang klaim yang tidak bisa dibuktikan tapi tetap dipercayai
Bayangkan kita sedang jalan-jalan santai menembus hutan belantara yang liar dan tak terurus. Di tengah perjalanan yang melelahkan itu, tiba-tiba kita menemukan sesuatu yang ganjil. Sebuah taman kecil yang sangat indah. Bunga-bunganya bermekaran rapi, rumputnya dipangkas sempurna, dan tak ada satu pun gulma yang tumbuh liar. Melihat keajaiban ini, salah satu dari kita berseru dengan mata berbinar, "Pasti ada tukang kebun yang diam-diam merawat tempat ini!" Tapi, teman kita yang satu lagi mengernyitkan dahi dan membalas, "Masa sih? Ini kan di tengah hutan. Jangan-jangan ini cuma kebetulan alam saja." Dari titik inilah, sebuah perburuan dan perdebatan panjang dimulai. Perdebatan yang kelak akan mengubah cara kita melihat segala keyakinan yang diam-diam mengakar di kepala kita sendiri.
Karena rasa penasaran yang tak tertahankan, kita sepakat untuk mendirikan tenda. Kita putuskan untuk mengintai siapa sosok misterius di balik taman indah ini. Malam pertama, kita begadang sambil mengawasi setiap sudut. Hasilnya nihil. Tak ada satu orang pun yang datang. Namun, teman kita yang percaya tadi tersenyum dan berkata, "Tukang kebun ini pasti sosok yang tidak terlihat." Oke, mari kita naikkan levelnya. Kita pasang pagar kawat berduri rapat dan kamera sensor gerak di sekeliling taman. Berhari-hari berlalu, kawatnya utuh, kameranya kosong. Teman kita membela diri lagi, "Tukang kebun ini tidak hanya tak terlihat, dia juga intangible atau tidak bisa disentuh benda fisik." Masih tidak puas, kita bawa anjing pelacak terbaik. Anjing itu hanya mengendus tanah lalu tertidur. Sekali lagi, teman kita berkilah, "Tukang kebun ini suci, dia jelas tidak memiliki bau sama sekali." Pelan tapi pasti, ada pola aneh yang terjadi. Setiap kali kita berhasil membuktikan bahwa tukang kebun itu tidak ada, teman kita selalu punya alasan baru untuk menyelamatkan keyakinannya.
Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa kita sebagai manusia sering kali bertingkah persis seperti teman kita tadi? Di dunia nyata, taman ini bisa berupa apa saja. Bisa berupa teori konspirasi bumi datar, ramalan zodiak, klaim pengobatan ajaib, atau bahkan janji manis politisi idola. Secara psikologis, otak kita sangat membenci ketidakpastian. Kita berevolusi untuk selalu mencari pola di tengah kekacauan dunia. Dalam ilmu psikologi kognitif, fenomena ini erat kaitannya dengan motivated reasoning. Ini adalah kecenderungan otak kita untuk memelintir fakta baru demi melindungi keyakinan lama yang sudah telanjur membuat kita nyaman. Sejarah panjang peradaban kita mencatat betapa seringnya manusia menciptakan sosok "tukang kebun" tak kasat mata. Dulu kita menyalahkan roh jahat atas wabah penyakit sebelum bakteri ditemukan. Kita membuat mitos kemarahan langit sebelum ilmu tentang petir dipahami. Namun, ada satu teka-teki besar yang kini menggantung. Jika sebuah keyakinan terus-menerus digeser dan dimodifikasi agar tidak bisa disalahkan, kapan kita harus berhenti mempercayainya?
Di sinilah kita sampai pada sebuah konsep brilian yang mengguncang dunia filsafat dan sains. Kisah taman tadi sebenarnya adalah sebuah perumpamaan klasik bernama The Invisible Gardener. Kisah ini awalnya dicetuskan oleh filsuf John Wisdom dan kemudian dipopulerkan oleh Antony Flew pada tahun 1950-an. Narasi ini menjadi pisau bedah yang tajam untuk memahami apa yang disebut sebagai falsifiability atau prinsip keterbantahan. Bapak filsafat sains modern, Karl Popper, menegaskan sebuah aturan emas: klaim hanya bisa disebut ilmiah dan valid jika klaim tersebut bisa dibuktikan salah. Teman skeptis kita dalam cerita tadi pada akhirnya akan mengajukan satu pertanyaan telak yang menjadi kunci dari segalanya: "Jika tukang kebunmu itu tidak terlihat, tidak bisa disentuh, tidak bersuara, dan tidak berbau, lalu apa bedanya tukang kebun misterius itu dengan tidak ada tukang kebun sama sekali?" Ketika sebuah klaim dikelilingi oleh ribuan alasan agar menjadi kebal dari pengujian, klaim itu sebenarnya telah mati. Ia kehilangan maknanya.
Mendengar kesimpulan tadi, kita mungkin tersenyum getir atau bahkan merasa sedikit tertampar. Tidak perlu merasa dihakimi. Sejujurnya, kita semua pasti menyimpan "tukang kebun tak kasat mata" di dalam laci pikiran kita masing-masing. Terkadang, keyakinan-keyakinan yang tak bisa dibuktikan secara sains ini memberi kita harapan. Ia memberi rasa aman dan kekuatan mental untuk menghadapi kerasnya hidup. Itu sangat wajar dan sangat manusiawi. Namun, sebagai manusia yang terus bertumbuh, kita juga punya tanggung jawab pada realitas. Sains dan pemikiran kritis tidak hadir untuk merampas keajaiban dari dunia ini. Sains justru hadir agar kita tidak mudah tertipu oleh keajaiban palsu. Mulai sekarang, setiap kali kita berhadapan dengan sebuah klaim yang terdengar terlalu mulus dan kebal dari segala bantahan, mari kita tarik napas sejenak. Beranikan diri kita untuk bertanya secara jujur. Jangan-jangan, selama ini kita hanya sedang menjaga taman kosong, menaruh harapan pada tukang kebun yang sebenarnya tidak pernah ada.